Welcome To MOZAIC DUNIA . .

"Temukan sisi lain dari dunia ini , , temukan beragam keunikannya dan kau akan lebih amaze dengan dunia-mu . . ."
:)

Selasa, 31 Agustus 2010

Kisah Migrasi Suku Jawa Ke Suriname dan Afrika Selatan . .

 

1. Suriname
MIGRASI suku bangsa Jawa ke mancanegara umumnya hanya diketahui berlangsung ke Suriname di Amerika Selatan. Masyarakat Jawa Suriname yang mulai didatangkan sebagai kuli kontrak tahun 1890 sudah mengorganisasi diri pada tahun 1918 dalam perkumpulan bernama Tjintoko Moeljo.

Suasana pabrik kayu lapis di Kota Paramaribo, Republik Suriname, pada tahun 1950-an. Warga Suku Jawa banyak yang bekerja di pelbagai sektor industri di Suriname setelah berakhirnya era perkebunan.

Duta Besar Republik Suriname untuk Republik Indonesia Angelic Caroline Alihusain-del Castilho mengatakan, masyarakat Jawa Suriname terkonsentrasi di sejumlah distrik, seperti Commewijne, Saramacca, dan Nickerie.

Selanjutnya masyarakat Jawa mendirikan masjid dan Perkumpulan Islam Indonesia pada tahun 1932. Namun, ada keunikan karena perbedaan soal kiblat bagi masyarakat Jawa di Suriname. Suriname berada di sebelah barat Kota Suci Mekkah, Arab Saudi, sedangkan masjid di Indonesia, yang berada di sebelah timur Arab Saudi, memiliki kiblat ke barat.

”Akhirnya ada kelompok yang membangun masjid dengan berkiblat ke barat seperti di Jawa. Tetapi, ada juga yang membangun masjid dengan berkiblat ke arah timur sesuai letak Suriname yang berada di barat Arab Saudi. Meski demikian, semua hidup rukun,” kata Del Castilho.

Selepas Republik Indonesia merdeka, sempat satu rombongan Jawa Suriname kembali ke Tanah Air. Presiden Soekarno memberikan lahan di Sumatera Barat yang dinamakan para migran Jawa Suriname sebagai Tongar. Proyek tersebut gagal sehingga tidak ada rombongan berikut yang kembali dari Suriname ke Indonesia.

Semasa persiapan hingga kemerdekaan Suriname, Toekiman Saimbang, diplomat Suriname di Jakarta, mengatakan, banyak warga suku Jawa yang memilih hijrah ke Negeri Belanda.

”Keluarga Jawa Suriname pasti punya kerabat di Holland. Demikian pula keluarga saya,” ujar Toekiman. Mereka memiliki kedekatan khusus dengan Belanda sebagai rumah kedua orang Jawa Suriname.

Toekiman memperkirakan ada sekitar 40.000 orang Jawa Suriname yang tinggal di Belanda saat ini. Keberadaan mereka menambah jumlah masyarakat Indisch (Indo) di Belanda yang berasal dari Maluku, Sulawesi, Jawa, Tionghoa, dan Indo-Eropa.


2. Afrika Selatan

Cape of Good Hope adalah tempat pertama kalinya para budak asal Jawa dan Madagaskar mendarat di Afrika Selatan pada sekitar tahun 1652. Para budak tersebut kemudian dinamai etnis Cape Malay. Namun, karena namanya Malay, maka orang-orang Afrika Selatan lebih mengenal Malaysia dibandingkan dengan Indonesia.

Datangnya para budak dari Indonesia disusul dengan pengasingan Syech Yusuf dari Makassar di Cape Town pada 1694 oleh Belanda semakin meneguhkan posisi Indonesia dalam sejarah Afrika Selatan. Bahkan, Syeh Yusuf, ulama muda dan juga pemimpin tentara Kesultanan Banten, juga merupakan penyebar agama Islam pertama di bagian selatan benua hitam ini. Selain Syeh Yusuf, sebenarnya ada nama lain seperti Abdullah Ibn Qadi Abdussalam asal Tidore.

Belanda sangat khawatir dengan perkembangan Islam di Cape Town, kemudian memindahkan dan mengisolasi Syeh Yusuf ke Zandvliet, di luar Cape Town. Namun, upaya Belanda tersebut gagal dan Islam tetap berkembang pesat di Cape Town.

Kesadaran sebagai orang asal Indonesia sudah dirasakan oleh beberapa orang Afrika Selatan terutama para Muslim. Bahkan, mereka langsung menyatakan mereka juga keturunan Indonesia khususnya Banten. Salah seorangnya adalah Ibrahim Salleh, Kepala Sekolah Muslim Bosmont.

Ibrahim mengakui, memang sebelumnya ada “kesalahpahaman” tentang Malay. Menurut Ibrahim, asumsi orang selama ini Malay sama dengan Malaysia, dan mereka juga diidentikan dengan keturunan Malaysia. “Namun, kami sudah tahu anggapan itu salah,” ujarnya.

Ibrahim sendiri tidak mengetahui bagaimana nama tempat tersebut kemudian disebut Cape Malay. “Mungkin karena berasal dari daerah atau kawasan orang-orang Melayu kemudian dinamakan Malay. Sebenarnya pula, para budak tersebut bukan berasal dari etnis Melayu. Para budak disebutkan didatangkan dari Jawa, sedangkan Syeh Yusuf orang Makassar,” ujarnya.

Cape Malay yang sekarang ini juga disebut Cape Muslim, sudah menjadi etnis tersendiri di Afrika Selatan. Pada masa apartheid, etnis Cape Malay masuk dalam golongan kulit berwarna (colored), kastanya lebih tinggi dibandingkan dengan kulit hitam, tetapi di bawah kulit putih.

Populasi etnis Cape Malay sekarang ini sekitar 166 ribu di Cape Town dan sekitar 10.000 di Johannesburg. Orang-orang Cape Malay juga penentang apartheid, salah seorang pimpinannya adalah Farid Esack.

Karena “kesalahpahaman” kemudian “klaim” Malaysia, Indonesia harus berjuang untuk memperkenalkan diri. “Mengubah persepsi orang sangat sulit, tetapi kami akan terus memperkenalkan Indonesia di Afrika Selatan. Indonesia merupakan bagian dari sejarah Afrika Selatan,” ujar Ali Hasan

8 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. hanya krena nama jadi salah tafsir,,,, hal pengakuan malaysia oleh publik internasional pun bukan hanmya hal demikian, waktu RIO pembalap formula 3 pun, saat juara podium pertama, media internasional memberitakaya sebgai anakbangsa malaysia... ckckckc , mungkin karena sentul sirkuit gak terkenal kali yaaahhh..., padahal RIO asli wong jawa timur.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ralat dikit mas, Rio Haryanto asli Surakarta, jawa tengah :)

      Hapus
  3. wes gontok-gontoan kono sak senenge RIO pak wong Ndi?

    BalasHapus
  4. toh kalau ada salah satu tokoh dari tidore. apakah ada keturunan dari tidore yang membuktikan itu atau ada marga dari tuan guru imam abdullah yang masih di pakai?
    atau adakah keturunan suriname di tidore?

    BalasHapus
  5. MAU AFRIKA DAN INDO SEMUANYA ITEM GOBLOK!!

    BalasHapus
  6. Orang "Melayu" atua Cape Malay di Afrika Selatan berasal dari Makassar ,dan Jawah. Juga dari Bali, Sumbawa, Timor dan Sumatera. Orang Cape Malay bukan datang ke Afrika Selatan dari Malaysia,tapi dari Indonesia. Misalny saya dari bandar kecil luar Cape Town ,namanya Strand .Di Strand ini , orang berasal dari Jawah Tenngah sebab imam atau pemimpin dulu dari kommunitas ini ,adalah Imam Abdol Sammat dan dia catatkan di testament beliau," Saya Abdol Sammat van Semarang " Say Abdol Sammat dari Semarang di Jawa.kommunitas atau masyrakat Strand tahu bahawa mereka berasal atau keturunan orang Jawa dan Timor juga. Di "opgaafrol " 1832 orang belanda Afrika selatan di census catatkan 30 orang dari Jawa .Abdol Sammat dari Jawa, Onggo van Jafa, (Onngo dari Jawa), Potro van Jafa ( Potro dari Jawa) , Nallo van Jafa (Nallo dari Jawa), Seding van Jafa, Simon van Jafa , ( Simon dari Jawa) ,Cadier van Timoor ( Cadier dari Timor ), Sakier van Timoor ( Sakier dari Timor), Jammier vanTimoor ( Jammier dari Timor). semua dari Jawah Tenngah. sebab itu betulkah orang dari kompong dari keturunan Jawa selapas jatuh Kesultanan Mataram. orang Strand ini keturunan orang Jawa Tenngah, dan Semarang.

    BalasHapus

Bagaimana menurut anda dengan tampilan dan isi Blog saya ??